Fenomena Begal Sebagai Problematika Sosial

on

BEGAL menjadi topik paling hangat dalam lingkup gangguan kamtibmas dalam dua bulan ini. Nyaris setiap hari terjadi pembegalan motor di berbagai, hampir setiap hari pula polisi meringkus dan menembak mati penjahat jalanan. Tapi kejahatan jalan terus saja terjadi, mati satu tumbuh seribu.

Dalam terminologi hukum Indonesia tidak ada istilah begal. Dalam KUHP jenis kejahatan diklasifikasikan sebagai pencurian dengan kekerasan (curas) dan pencurian dengan pemberatan (curat). Begal motor masuk dalam klasifikasi curas. Hanya saja, istilah begal yang berasal dari bahasa daerah tertentu menjadi lebih populer sebagai sebutan bagi perampas motor.

Fenomena pembegalan atau perampasan sesungguhnya sudah lama terjadi. Polisi memetakan pelaku kejahatan ini berdasarkan daerah asal mereka, yakni Lampung Timur. Polisi punya bukti, begal yang tertangkap di Jakarta, Tangerang, Bekasi dan lainnya, rata-rata berasal dari Lampung Timur, meski banyak juga yang berasal dari daerah lain.

Dalam perkembangannya, pembegalan motor tidak hanya di Jabodetabek, melainkan hampir ke semua daerah. Di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, dan sejumlah wilayah lainnya. Modusnya sama, mengancam akan membunuh pengendara motor bila tidak mau menyerahkan hartanya.

Begal pun jadi fenomena yang menyeramkan. Hingga muncul istilah, lebih baik bertemu hantu di jalan daripada ketemu begal. Akumulasi kemarahan masyarakat pada begal akhirnya dilampiaskan dengan cara anarkis.

Fenomena begal sesungguhnya tidak bisa dipandang dari sisi keamanan saja. Berbagai analisis menyebutkan, kejahatan lahir dari banyak sebab. Persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, dan gaya hidup kerap berkorelasi dengan munculnya kriminalitas. Bila kita lihat sejumlah tersangka yang ditangkap polisi, rata-rata berusia muda, bahkan ada yang berstatus pelajar.

Artinya, fenomena kejahatan mulai bergeser, dari semula pelakunya orang dewasa dan penjahat profesional, kini justru anak-anak muda. Pelaku yang ditangkap mengaku mereka menjambret atau merampas motor, untuk mencari uang buat mabuk, beli HP model terbaru serta hura-hura. Hedonisme rupanya telah menjerumuskan mereka ke dunia kejahatan. Generasi muda tak mampu menahan gempuran hedonisme.

Begal tidak hanya persoalan kamtibmas, melainkan juga masalah sosial. Pemerintah dan seluruh komponen bangsa ikut bertanggung jawab. Pendidikan di dalam rumah, adalah yang paling penting untuk membentuk karaktek anak di samping pendidikan di sekolah.

Kejahatan bisa dicegah bila semua komponen sama-sama melakukan upaya preventif seperti penyuluhan, atau pendidikan agama dan menanamkan moral yang kuat. Masalah keamanan, adalah tanggungjawab kita bersama.

sumber : poskota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s