Armenia: a forgotten genocide

This slideshow requires JavaScript.

Dalam bahasa Armenia, negara tersebut dinamakan Hayq, dan kemudian Hayastan, yang berarti tanah dari orang orang Haik, penambahannya istilahnya menjadikan nama Haik bagian dari imbuhan ‘-stan’ yang dalam bahasa Persia berarti tanah. Menurut legenda, Haik adalah keturunan dari Nabi Nuh yang merupakan moyang dari seluruh orang Armenia (menurut tradisi Armenia kuno).
Haik bermukim di kaki Gunung Arafat, dan meninggalkan Armenia untuk membantu pembangunan Menara Babel, saat ia kembali, ia dikalahkan oleh Bel seorang Raja Babilonia (beberapa peneliti beranggapan bahwa ia dikalahkan oleh Nimrod pada tanggal 11 Agustus 2492 SM dekat danau Van, sebelah selatan Armenia kuno (kini daerah ini masuk dalam daerah Turki).
Hayq adalah nama yang diberikan pada Armenia oleh negara-negara lain yang mengelilinginya. Nama ini diambil dari suku terkuat yang tinggal di tanah Armenia kuno, dan menamakan diri mereka ‘’Armens’’. Secara tradisional nama ini diturunkan dari Armenak atau Aram (keturunan Haik). Menurut penelitian yang dilakukan dari sisi Yahudi dan Kristen nama ‘Armenia’ diambil dari Har-Minni yang berarti Gunung Minni (atau Mannai). Penjelasan yang diambil dari masa pra-Kristen beranggapan bahwa Nairi, yang berarti tanah yang dialiri oleh sungai-sungai, adalah nama kuno yang diberikan untuk daerah pegunungan yang terdapat di negara itu dan nama ini digunakan oleh bangsa Assyriah sekitar tahun 1200 SM; namun Naskah Behistun yang terdapat di Iran dan dilansir berasal dari tahun 521 SM tercatat menuliskan Armenia.

Armenia telah didiami oleh manusia sejak zaman prasejarah, dan telah diusulkan merupakan tempat situs dari Taman Firdaus yang termuat di Alkitab.
Armenia adalah daerah kekaisaran yang kaya akan budaya hingga pada akhir abad 1, dan daerahnya terbentang mulai dari Laut Hitam hingga Laut Kaspia serta Laut Mediterania pada zaman pemerintahan Tigranes Agung. Namun lokasi strategis Armenia yang terletak di antara dua benua telah menjadi magnet untuk banyak penjajah, termasuk bangsa Assyriah, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, Mongol, Arab, Turki Ottoman, dan Mongolia.
Pada 301 M, Armenia menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Agama Kristen sebagai agama resmi suatu negara, dua belas tahun sebelum Kekaisaran Romawi memberikan toleransi resmi untuk agama Kristen dibawah Galerius, dan 30-40 tahun sebelum Konstantin di baptis. Walaupun ada komunitas-komunitas keagamaan lain sebelum Kristen, saat negara ini dijajah komunitas-komunitas ini dialihkan agamanya oleh para penyebar agama Kristen (misionaris).
Setelah berulangkali dijajah dan diubah oleh dinasti-dinasti yang berbeda termasuk oleh Parthian (Iran), Romawi, Bizantintium, Arab, Mongol, dan Persia – Armenia menjadi lemah. Pada tahun 1500an kekaisaran Ottoman dan Safavid Persia membelah Armenia.
Di tahun 1813 dan 1828, Armenia modern (terdiri dari Erivan dan Karabakh yang masih merupakan daerah kesultanan Persia) dijadikan salah satu daerah Kekaisaran Rusia untuk sementara. Adanya Revolusi Bolshevik di Petrograd memungkinkan Armenia menjadi republik merdeka dalam waktu yang singkat, kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet lagi. Wilayah Armenia yang dikuasai Uni Soviet kemudian digabungkan dengan wilayah Georgia dan Azerbaijan menjadi Republik Sosialis Soviet Transkaukasus pada tahun 1922 dan 1936.
Lalu pada tahun 1936 sampai 1991 Armenia berdiri menjadi wilayah sendiri sebagai Armenia SSR walaupun masih menjadi bagian dari Uni Soviet.
Pada masa-masa akhir Kekaisaran Ottoman pada tahun 1915 hingga 1922, sebagian besar dari penduduk Armenia yang tinggal di Anatolia “hilang”. Hal ini kemudian dikenal sebagai pembantaian orang Armenia atau Genosida Armenia, yang diyakini oleh orang-orang Armenia dan sebagian besar sejarahwan barat sebagai pembunuhan masal yang didukung/ dilakukan oleh pemerintahanan suatu negara. Namun otoritas Turki membantah hal ini dan berkeras bahwa angka kematian yang terjadi adalah akhibat dari perang sipil dan diperparah dengan penyebaran wabah penyakit dan kelaparan dan korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Perkiraan angka jumlah penduduk Armenia yang terbunuh berkisar dari 650.000 hingga 1.500.000 dan kejadian ini diperingati setiap tahun pada tanggal 24 April. Rakyat Armenia dan beberapa negara lainnya di dunia telah berkampanye selama 30 tahun agar kejadian ini diakui sebagai tindakan genosida yang brutal, namun banyak negara lain memberikan tekanan pada gerakan ini dan tidak ingin mengakui secara sah bahwa pembantaian masal di Armenia digolongkan sebagai genosida.
Armenia masih disibukkan oleh konflik berkepanjangan dengan Azerbaijan mengenai Nagorno-Karabakh, enklave yang sebagian besar didiami oleh rakyat Armenia. Menurut Armenia Nagorno-Karabakh menjadi bagian dari Azerbaijan akibat ulah Stalin yang memasukkan daerah tersebut menjadi bagian dari Soviet Azerbaijan. Konflik militer antara Armenia dan Azerbaijan dimulai pada tahun 1988, dan peperangan memuncak saat kedua negara merdeka dari Uni Soviet tahun 1991. Pada bulan Mei 1994, saat gencatan senjata, angkatan perang Armenia berhasil mengambil alih tidak saja Nagorno-Karabakh tetapi juga daerah-daerah lainnya yang disengketakan dengan Azerbaijan dan dinyatakan sebagai haknya.
Keadaan ekonomi kedua negara ini dalam keadaan pincang akibat perang yang berkepanjangan dan tidak adanya resolusi damai.

Genocide di Armenia

Secara umum, genocide (berasal dari bahasa Latin genos: kelahiran/persediaan dan cidium: pembunuhan) diterjemahkan sebagai “pembantaian terstruktur atas suatu kelompok etnis atau suku bangsa”. Pada tahun 1948, melalui kesepakatan Pencegahan dan Sanksi Kejahatan Genosida (United Nations Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide), PBB merumuskan genocide sebagai “segala bentuk tindakan yang merupakan upaya yang didasari oleh niat/maksud untuk memusnahkan suatu kelompok etnis/ras, agama, suku bangsa atau bangsa, baik secara sebagian atau sepenuhnya”.

Sejauh ini, pembantaian massal atas kaum Yahudi pada masa Perang Dunia II diakui sebagai kasus kejahatan genocide terbesar dan terkejam sepanjang sejarah. Sampai sekarang, kejahatan yang dikenal dengan nama Holocaust (dari bahasa Latin holos:semua dan kaustos/pembakaran) ini adalah kasus genocide yang paling disoroti dan dipelajari. Namun, Holocaust bukanlah kasus pertama. Sebelum itu—selama dan beberapa saat setelah Perang Dunia I—kasus genocide sudah terjadi di bawah kekuasaan Ottoman. Tak lain dan tak bukan, kejahatan ini terjadi di Armenia, dan dianggap sebagai salah satu peristiwa genocide pertama di zaman modern.

Genocide di Armenia dikenal dengan sebutan Armenian Holocaust atau Armenian Massacre, sementara bangsa Armenia sendiri menamainya Mec Yegern atau Kejahatan Besar (The Great Crime). Menurut catatan sejarah, peristiwa ini terjadi pada tahun 1915-1917, walaupun pada kenyataannya pembantaian ini sudah terjadi sejak tahun 1894 dan tidak serta merta berakhir pada tahun 1917. Walaupun otak dari pembantaian massal ini adalah pemerintahan Ottoman yang notabene adalah bangsa Turki dan sekaligus ‘perpanjangan tangan’ Turki di Armenia, namun Republik Turki sendiri menolak dianggap bertanggung jawab atas kejahatan ini.

Pada tahun 1909, pemerintahan Ottoman membantai sekitar 15 sampai 30 ribu warga Armenia di provinsi Adana. Pembantaian yang dikenal sebagai The Adana Massacre ini merupakan upaya menghabisi bangsa Armenia yang—dengan didukung oleh Rusia—menentang pemerintahan Ottoman serta diskriminasi yang dilakukannya terhadap bangsa Armenia yang menganut Nasrani.

Pada tanggal 24 April 1915, pemerintahan Ottoman yang diwakili oleh Mehmed Talat Pasha menangkap paksa 50 orang cendekiawan dan pemimpin komunitas bangsa Armenia di Konstantinopel (sekarang dikenal sebagi Turki). Menyusul kemudian, orang-orang sipil Armenia pun diangkut paksa dari rumahnya. Kemudian, para tawanan tersebut dipaksa berjalan kaki dalam iring-iringan long march menuju sebuh gurun yang kini dikenal sebagai Syria, dengan hanya diberi jatah makanan dan air yang sangat jauh dari cukup. Walaupun pemerintahan Ottoman sendiri menyebutnya sebagai ‘deportasi’, namun pada kenyataannya, sepanjang perjalanan itu, banyak orang Armenia yang dibantai tanpa memandang umur atau jenis kelamin, seringkali juga didahului pemerkosaan atau kekerasan seksual.

‘Deportasi’ bukanlah satu-satunya cara yang ditempuh pemerintahan Ottoman unuk memusnahkan bangsa Armenia. Pemerintahan Ottoman juga melakukan pembakaran massal atas sekitar 5 ribu warga Armenia di 3 desa yaitu Bitlis, Mus, dan Sassoun. Banyak orang Armenia, sebagian besar anak-anak, juga ditangkapi dan diangkut dengan kapal untuk kemudian ditenggelamkan ke Laut Hitam. Selain itu, upaya pemusnahan juga dilakukan dengan menggunakan racun atau obat-obatan berbahaya dalam dosis tinggi, gas beracun, serta penyakit tifus yang ditularkan secara sengaja lewat suntikan.

International Association of Genocide scholars memperkirakan bahwa jumlah bangsa Armenia yang menjadi korban pembantaian ini mencapai 1,5 juta orang—itu pun baru jumlah yang tercatat sebagai korban pada tahun 1915-1917.

Dunia bukannya berdiam diri melihat penderitaan Armenia. Amerika Serikat, Swiss, dan Austria adalah beberapa negara besar yang mengecam dan menuntut pemerintahan Ottoman untuk menghentikan kekejamannya. Rusia juga mengirimkan pasukan ke Armenia untuk menumpas pasukan Ottoman—gerakan ini cukup berhasil. Walaupun demikian, nasib Armenia sebagai sebuah negara masih terombang-ambing. Sebagian wilayah Armenia memang telah membentuk pemerintahan republik sebagai bagian dari Soviet Rusia, namun pemerintahan Ottoman dan Republik Turki menolak untuk melepaskan wilayah Armenia yang masih dikuasainya. Baru pada tahun 1920, pemerintahan Ottoman melepaskan sisa wilayah Armenia, yang kemudian berada di bawah perlindungan Perancis.

Armenia baru benar-benar merdeka pada tanggal 23 Agustus 1991 sebagai Republik Armenia.

The Secret Holocaust dalam Musik

Karena masih belum banyak diketahui dunia luas, para sejarawan dan ilmuwan menyebut kejahatan pembantaian atas bangsa Armenia sebagai The Secret Holocaust atau The Forgotten Genocide. Walaupun demikian, bukan berarti kasus ini terkubur begitu saja. Sejak tahun 1940an, setidaknya sudah ada lebih dari 25 film—dokumenter dan fiksi—yang mengangkat peristiwa kelam ini. Namun, sampai sekarang, hanya ada satu yang berusaha mengungkap penderitaan bangsa Armenia ini melalui jalur musik.

System of A Down terbentuk pada tahun 1994 atas gagasan tiga orang musisi berdarah Armenia: Serj Tankian (vokal/kibor), Shavo Odadjian (bass), dan Daron Malakian (gitar). Ketiganya pernah bersekolah di Rose and Alex Pilibos Armenian School. John Dolmayan, drummer yang bergabung belakangan, juga berdarah Armenia.

Walaupun nama dan musik hard rock yang diusung System of A Down sudah mendunia dan memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi, namun belum banyak yang menyadari banyak lirik lagunya menceritakan kisah sejarah pahit yang pernah dialami leluhur mereka. Bukan hanya bercerita, lirik lagu mereka juga mengutuk, mengungkapkan amarah dan kebencian, serta menuntut keadilan atas peristiwa pembantaian di negeri nenek moyang mereka itu.

Usaha System of A Down untuk membuka mata dunia atas kejahatan yang dilakukan Turki dan pemerintahan Ottoman terhadap bangsa Armenia juga tidak hanya lewat lirik lagu-lagu mereka. Serj Tankian dan John Dolmayan bahkan secara langsung menemui juru bicara Gedung Putih, Dennis Hastert, sebagai bagian kampanye band ini untuk menggugah kesadaran dunia tentang The Secret Holocaust. Selain itu, mereka berdua juga ikut turun bersama para demonstran yang melakukan aksi protes di depan Kedutaan Besar Turki di Washington DC.

Banyak lirik lagu System of A Down yang menyampaikan—atau dianggap mengungkapkan—kejahatan moral yang dilakukan Turki terhadap bangsa Armenia. Di sini, saya hadirkan lirik dari tiga single hits mereka: Toxicity, Holy Mountains, dan Lonely Day. Saya mencoba menginterpretasi ketiga lirik ini dengan berdasar pada latar belakang sejarah Armenia.

Toxicity mengungkap hampir semua hal yang berhubungan dengan pemusnahan bangsa Armenia oleh pemerintahan Ottoman. /conversion, software version 7.0/ mengungkap hal yang menjadi salah satu atau bahkan bisa jadi alasan utama dilancarkannya The Great Crime: diskriminasi terhadap bangsa Armenia yang menganut Nasrani (sebagai tambahan, diskriminasi ini juga berlaku pada kaum Yahudi di Armenia, bahkan walaupun mereka bukan penganut Nasrani). Bentuk nyata diskriminasi ini adalah mereka dikenai pajak yang kelewat mahal. /software version 7.0/ sendiri mungkin menggambarkan ajaran Kristen, yang banyak menggunakan angka 7 dalam “software”nya (software: peraturan atau prosedur tertulis).

/more wood for their fires, loud neighbors/ menggambarkan pembakaran massal di beberapa desa di Armenia. /the toxicity of our city/ selain menceritakan penggunaan racun dan obat-obatan berbahaya dalam dosis tinggi, juga mewakili kesaksian banyak saksi mata pembakaran massal yang menyatakan bahwa bau darah dan daging terbakar memenuhi seluruh desa sampai berhari-hari, dan bahkan tercium dari desa atau kota sekitar.

/what do you own the world/ dan /how do you own disorder/ merupakan pernyataan yang berusaha mengangkat peristiwa The Great Crime di mata dunia, karena selama ini, kekejaman atas bangsa Armenia ini tidak banyak diketahui dan dibicarakan dunia umum; sekaligus sebuah pertanyaan yang menggugat keadilan atas penderitaan yang pernah dialami bangsa Armenia.

Dalm lirik lagu Holy Mountains, /Holy Mountains/ mengacu pada Pegunungan Ararat, yang dianggap ‘suci’ karena di sinilah tempat bahtera Nuh terdampar setelah air bah surut, yang juga menjadi benteng yang mengelilingi Armenia.

Holy Mountains bisa dianggap sebagai ungkapan kegeraman dan bahkan kebencian yang sangat jelas terhadap bangsa Turki dan pemerintahan Ottoman yang menjadi dalang The Great Crime; “mereka” yang “kehadirannya menghantui” dan dianggap sebagai “pendusta; pembunuh; iblis” , yang kekejamannya membuat bangsa Armenia dan keturunannya menyumpahi mereka untuk /back to the River Aras!/, kembali ke asalnya, Turki—asal aliran Sungai Aras. Penulisan /KILLER! DEMON!/ yang menggunakan huruf kapital dan tanda seru juga memperkuat aura kebencian terhadap Turki.

/someone’s mouth said paint them all red/ dengan jelas mengacu kepada Mehmed Talat Pasha, yang memerintahkan penangkapan bangsa Armenia untuk kemudian dihabisi tanpa pandang bulu sehingga “merah darah mewarnai tubuh mereka”. /MURDERER!/SODOMIZER!/ menyatakan bahwa pembantaian bangsa Armenia seringkali disertai dengan kekerasan seksual, yang menurut catatan sejarah, dilakukan tanpa pandang umur dan jenis kelamin.

Keseluruhan lirik Lonely Day mewakili perasaan para korban yang selamat dari pembantaian, namun harus kehilangan keluarga dan banyak saudara sebangsanya dalam pemusnahan tersebut; kehilangan yang menimbulkan rasa kesepian sangat dalam yang bahkan tidak cukup digambarkan dengan “loneliest”, melainkan dihadirkan dengan penekanan dalam bentuk struktur tidak lazim /the most loneliest day of my life/. Penggalan pernyataan /a day that I’m glad I survived/ baru disampaikan pada baris terakhir dalam lirik sebagai ungkapan syukur para korban yang berhasil menyelamatkan diri dari pembunuhan. Dapat dikatakan bahwa Lonely Day sangat personal, karena salah satu dari sedikit korban yang selamat itu adalah kakek Serj Tankian sendiri.

Lirik SYSTEM OF A DOWN “B.Y.O.B.”

WHY DO THEY ALWAYS SEND THE POOR!
Barbarisms by Barbaras
With pointed heels.
Victorious, victories kneel.
For brand new spankin’ deals.
Marching forward hypocritic
And hypnotic computers.
You depend on our protection,

Yet you feed us lies from the table cloth.
La la la la la la la la la,
Everybody’s going to the party have a real good time.
Dancing in the desert blowing up the sunshine.

Kneeling roses disappearing,
Into Moses’ dry mouth,
Breaking into Fort Knox,
Stealing our intentions,
Hangars sitting dripped in oil,
Crying FREEDOM!

Handed to obsoletion,
Still you feed us lies from the table cloth.
La la la la la la la la la,
Everybody’s going to the party have a real good time.
Dancing in the desert blowing up the sunshine.
Everybody’s going to the party have a real good time.
Dancing in the desert blowing up the sunshine.

Blast off, it’s party time,
And we don’t live in a fascist nation,
Blast off, it’s party time,
And where the fuck are you?
Where the fuck are you?
Where the fuck are you?

Why don’t presidents fight the war?
Why do they always send the poor?
Why don’t presidents fight the war?
Why do they always send the poor? [X4]

Kneeling roses disappearing,
Into Moses’ dry mouth,
Breaking into Fort Knox,
Stealing our intentions,
Hangars sitting dripped in oil,
Crying FREEDOM!

Handed to obsoletion,
Still you feed us lies from the tablecloth.
La la la la la la la la la,
Everybody’s going to the party have a real good time.
Dancing in the desert blowing up the sunshine.
Everybody’s going to the party have a real good time.
Dancing in the desert blowing up the sun

Where the fuck are you!
Where the fuck are you!

Why don’t presidents fight the war?
Why do they always send the poor?
Why don’t presidents fight the war?
Why do they always send the poor? [X3]
Why, do, they always send the poor [X3]
They only send the poor [x2]

http://id.wikipedia.org
http://qyuraz.blogspot.com
http://mediasastra.com
http://www.azlyrics.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s