Museum Ikan Paus Dibangun di Lamalera

on

JAKARTA–MICOM: Forum Pemuda Kupang Jakarta (FPKJ) melakukan upaya penggalangan dana untuk menunjang pembuatan museum ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal tersebut dinilai penting. Pasalnya, perairan Lamalera telah menjadi perhatian masyarakat dunia karena keunikannya, yakni berburu ikan paus secara tradisional. Terutama, pelancong yang ingin menyaksikan atraksi perburuan binatang raksasa laut itu.

Pendiri The Go-East Institute Ignas Kleden mengatakan, keberadaan museum ikan paus merupakan kewajiban pemuda-pemuda asal Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor/NTT). Ini beguna agar dapat ikut melestarikan budaya yang ada.

“Saya kira ini penting sekali untuk mendirikan museum. Bisa menjadi pusat informasi yang tepat karena tradisi di Lamalera masih dilakukan secara tradisional,” jelasnya disela-sela penggalangan dana di Jakarta, Minggu (17/4) petang.

Ikan paus biasanya melintasi laut Sawu sebelum menuju ke Australia yang merupakan habitat terbesar ikan paus di dunia. Sedikitnya, ada 14 jenis ikan paus. Termasuk paus jenis langka, yakni ikan paus biru (balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (physeter macrocephalus).

Musim berburu paus biasanya jatuh antara Mei hingga Oktober saat laut tenang dan tidak terlalu bergelombang.

Ketua FPKJ Yesaya Mandala menjelaskan tradisi dan warisan budaya berburu ikan paus telah dilakukan beratus tahun lalu. Ini yang membuat FPKJ tergerak untuk menggandeng orang-orang NTT, baik di dalam maupun luar negeri, untuk turut mendukung rencana pembangunan museum. “Dengan adanya museum, maka setiap peralatan tangkap tradisonal hingga tulang-tulang ikan paus dapat dikumpulkan untuk kepentingan penelitian,” jelas Yesaya.

Menurutnya, dengan adanya dukungan pemerintah maka akan cepat merealisasikan upaya dalam mendirikan museum itu. “Saya tengah berusaha untuk mengumpulkan dukungan mereka. Saya juga sudah melakukan pembicaraan dengan Gubernur NTT hingga teman-teman di berbagai disiplin ilmu,” papar Yesaya.

Berdasarkan hasil penelitian Dr Benjamin Kahn dari APEX Environmental Program Cetacean, paus-paus yang ditangkap umumnya tidak masuk dalam kategori mamalia laut yang dilindungi.

Biasanya hanya paus kotaklema alias paus sperma dengan panjang antara 12-20 meter. Penangkapan pun sesuai aturan adat. Nelayan tidak boleh menangkap paus jantan besar atau paus betina yang sedang hamil.

Sebelum melakukan perburuan, para nelayan melakukan upacara adat sekaligus misa yang disebut Iefa dan digelar setiap 1 Mei di Kapel Santo Petrus. Misa tersebut bertujuan untuk memohon berkah dari para leluhur serta mengenang arwah Lamafa (pemburu) yang gugur di laut setelah bertarung dengan paus.

Lalu, penduduk Lamalera akan membuat miniatur kapal yang diisi dengan lilin dan diarung ke laut. Setelah menjalani misa, dengan menggunakan sampan bercadik–Peledang–berisikan tujuh orang, para nelayan segera melanjutkan perburuan.

Malam penggalangan dana dilakukan dengan menjual album musik bertajuk Return to Lamalera hasil aransemen musisi NTT Ivan Nestorman. Sejumlah 50 album berbentuk VCD langsung diborong musisi kawakan Winki Dharmawan. Ia berencana mempromosikan Lamalera dalam rencana tur 2011-nya di Eropa. (Iwa/OL-8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s