Implementasi Teori Perilaku Menyimpang: Masalah Seks Pra-nikah pada Remaja di Kelurahan Warakas

on

Warakas adalah sebuah daerah di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tanjung Priok sendiri merupakan kecamatan yang mempunyai angka masalah sosial dan ekonomi yang paling tinggi di kawasan Jakarta Utara, yakni 37,13% pada tahun 2007. Angka pendidikan yang rendah dan jumlah keluarga miskin serta tingginya angka pengangguran juga turut memacu semakin meningkatnya masalah sosial yang terjadi di daerah tersebut, salah satunya adalah masalah remaja yang kini banyak terjadi, yakni banyaknya remaja yang melakukan tindakan seks pra-nikah.

Dari berbagai sumber ditemukan bahwa sekitar 35 % persen remaja pada usia 14 tahun sudah pernah melakukan hubungan intim tanpa jalur pernikahan dengan pasangannya. Di sini terdapat indikasi pertentangan das sains dengandas solen. Di mana remaja idealnya melalui kehidupannya dengan membantu orang tuanya, bersekolah, melakukan tindakan yang tidak melanggar nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Namun, pada kenyataannya, di Kelurahan Warakas, banyak remaja yang melakukan hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum. Hal itu seperti, pulang lewat jam malam yang telah ditentukan, melakukan gaya berpacaran yang melewati batas (bercumbu di depan umum), merokok, kebut-kebutan dan lain sebagainya. Jika dianalisis maka masalah remaja tersebut terjadi karena adanya perilaku menyimpang.

Remaja mempunyai nilai tersendiri dalam menjalani kehidupannya. Hal ini terkait dengan persepsi apa yang ia lakukan adalah apa yang ia anggap benar. Melakukan seks pra nikah juga disebabkan hal tersebut. Sedangkan nilai-nilai yang berlaku dalam pergaulan antar remaja seringkali bertentangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masalah seks pra nikah menjadi masalah sosial masyarakat, khususnya di daerah Warakas.

Menurut teori deviant behaviour yang dipelopori oleh Robert K. Merton, individu memiliki perbedaan dalam memilik life style, ada yang memilih melakukan hal-hal baik, ada juga yang memilih melakukan hal yang tidak baik. Perilaku menyimpang merupakan penyimpangan perilaku sosial sebagai akibat dari pertentangan konformitas dan deviant behaviour.

Perilaku seks pra nikah ini didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Faktor tersebut lebih merupakan gejala biologis ketika merangkak dewasa. Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pra nikah.

Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love), atau karena pengaruh kelompok, di mana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku remaja seks pra nikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pra nikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri, “Learning by doing“.

Namun, terkadang remaja tidak mengetahui dampak dari apa yang telah ia lakukan. Melakukan seks pra-nikah tanpa pengetahuan yang cukup, maka akan menyebabkan risiko kehamilan, khususnya pada remaja putri, lebih tinggi Hal tersebut kemudian dapat menimbulkan masalah sosial lainnya. Baik remaja laki-laki dan perempuan akan menangung akibat dari tindakan seks pranikah tersebut. Tetapi biasanya yang menanggung kerugian yang paling besar adalan remaja perempuan. Karena menyangkut perubahan fisik perut mereka yang semakin membesar.

Kehamilan tidak diinginkan tindakan aborsi, terancam putus sekolah, dan mengalami pernikahan yang tidak direncanakan, di mana remaja beralih peran menjadi orang tua dan harus bertanggung jawab kepada keluarganya kemudian.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, maka diperlukan langkah preventif bagi para remaja. Antara lain pentingnya sex education pada remaja. Agar remaja mengetahui apa yang benar dan harus ia lakukankan dan menyadari dampak negatif dari tindakan seks-pranikah. Pendidikan seks untuk remaja tidak hanya melalui jalur pendidikan formal (sekolah), namun juga jalur non-formal (seminar-seminar dan situs dari internet). Tetapi, pengawasan pendidikan seks jalur non-formal harus diperketat. Seperti penetapan batas usia yang sesuai dengan sosialisasi tersebut. Selain itu, seminar-seminar tentang pedidikan seks juga harus dilakukan dengan cara yang interaktif dan menyenangkan agar para remaja tertarik untuk mengikutinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s