Bakul Rempah: Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanganan HIV dan AIDS (Studi Kasus: Tanjung Priok, Jakarta Utara)

on

Pendahuluan

HIV dan AIDS adalah penyebab kematian tertinggi nomor dua di Indonesia, setelah demam berdarah. Banyak korban yang meninggal karena terlambat mendeteksi adanya virus ganas tersebut di dalam tubuh si pasien, atau dalam istilah medis disebut dengan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Virus HIV sendiri sebenarnya tidak dapat disebuhkan, namun dengan meminum obat ARV (Anti Retro Viral), pertumbuhan HIV dapat ditekan, sehingga ODHA dapat bertahan hidup lebih lama yakni dalam jangka waktu 20-25 tahun ke depan.

Di Indonesia, penanganan ODHA cenderung lamban dan sulit untuk mendapatkan obat ARV. Karena, terdapat suatu perspektif yang cenderung mengeneralisasi di masyarakat bahwa, korban HIV adalah mereka yang menggunakan narkotika dan berhubungan intim secara bebas (free sexs).

Banyak kasus, yang ditemui mengenai penanganan ODHA, bahwa korban HIV dan AIDS yang meninggal dengan jangka waktu yang realatif singkat, bukan karena penyakit HIV tersebut melainkan karena beban psikologis (48,09 %). Penderita HIV terkena stereotipe bahwa ia terjangkit virus terbut karena telah melakukan perbuatan yang pastinya bernilai negatif.

Namun, nampaknya hal tersebut sudah meluas bahkan sampai instansi kesehatan masyarakat seperti Puskesmas/Posyandu dan Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD). Sehingga penanganan terhadap ODHA tidak maksimal, karena tenaga perawat sendiri takut tertular virus tersebut. Alhasil, ODHA malah cenderung dikucilkan dan diabaikan di instansi kesahatan milik pemerintah tersebut. Instansi kesehatan pemerintah juga hanya menangani ODHA yang sudah berada dalam kategori akut. Artinya penanganan pemerintah hanya bertindak dalam hal yang sifatnya kuratif ketika sang pasien datang untuk berobat. Sedangkan untuk mengadakan tes massal cenderung jarang dilakukan, mengingat anggaran dana yang terbatas.

Padahal, terkadang penderita virus tersebut bukan pengguna narkotik atau pelaku seks bebas, tapi sebagian besar penderita HIV dan AIDS adalah korban yang tertular baik sengaja maupun tidak sengaja. Sengaja misalkan menggunakan jarum suntik narkotika secara bersamaan atau berhubungan intim dengan penderita HIV dan AIDS. Sedangkan jika tertular virus tersebut karena faktor ketidaksengajaan antara lain disebabkan menerima donor darah dari penderita HIV dan AIDS atau penularan virus dari ibu yang menderita HIV ke anaknya.

Selain itu, karena biaya untuk megurangi jumlah virus dalam tubuh si penderita sangat mahal. Obat ARV sendiri berkisar antara Rp 400.000 sampai dengan Rp. 500.000 per strip (satu lusin). Apalagi untuk daerah semisal Tanjung Priok, dengan pendapatan penduduk yang rata-rata Rp. 950.000 per bulan, ODHA diperkirakan tidak dapat membayar pengobatan dirinya.

Melihat adanya masalah tersebut di atas, di bentuklah suatu lembaga swadaya masyarakat yang anggotanya merupakan di dalamnya juga terdapat pemuda atau pemudi yang termasuk kategori ODHA. Lembaga tersebut bernama Bakul Rempah. LSM ini didirikan atas saran pemuda-pemudi yang terkena ODHA tersebut agar dapat membantu mayarakat, khususnya yang terinfeksi virus HIV, agar bisa mendapatkan penanganan HIV dan AIDS dengan baik.

Tulisan ini ingin menggambarkan tentang kemandirian masyarakat di bidang kesehatan, yakni dalam mencegah dan menangani korban HIV dan AIDS. Kemandirian masyarakat tersebut direpresentasikan melalui suatu lembaga yang bernama Bakul Rempah. Untuk itu, bakul rempah melakukan beberapa hal, antara lain:

  1. Pencarian korban HIV dan AIDS.
  2. Penanganan lebih lanjut terhadap koran HIV dan AIDS.
  3. Penyuluhan mengenai HIV dan AIDS

Bakul Rempah menjadi berbeda dengan lembaga swadaya masyarakat lain yang ada di Tanjung Priok, karena menurut informan ODHA yang ditangani oleh Bakul Rempah, hanya yayasan tersebut yang datang ke penderita ODHA dan dengan pendekatan persuasif yang dinilai berhasil untuk menjauhkan orang dari hal-hal yang berindikasi dapat menularkan virus HIV dan AIDS, seperti penggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) suntik.

Perumusan Masalah

Terkait dengan konsep pemberdayaan masyarakat, Bakul Rempah dapat dikategorikan sebagai salah satu civil society organization (CSO). Yakni suatu lembaga yang berasal dari masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan posisi masyarakat, dalam hal ini ODHA, di bidang kesehatan. Namun, penelitian ini ingin mefokuskan, “bagaimana posisi Bakul Rempah di dalam proses pembentukan kemandirian kesehatan masyarakat ?”

Tiga P: Program Kerja Bakul Rempah

Bakul Rempah bertempat di jalan Sungai Bambu, Jakarta Utara. Didirikan atas inisiatif pemuda karang taruna kelurahan Sungai Bambu untuk menolong orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pada tahun Agustus 2003. Yayasan ini beranggotakan 21 orang namun semakin lama semakin bertambah seiring bertambahnya jaringan CSO lain yang menangani HIV. Bakul Rempah mempunyai impian yakni penanganan dan pencegahan infeksi HIV dan AIDS. Untuk merealisasikan impiannya, Bakul Rempah melakukan 3 hal yang disebut 3 P (pencarian, penanganan, dan pencegahan).

  • Pencarian, ditugaskan kepada kordinator lapangan, yang berjumlah 2 orang. Korlap mencari penderita HIV/AIDS tidak hanya di kecamatan Tanjung Priok, namun mereka juga mencari penderita HIV/AIDS di willayah lainnya. Kedua korlap tersebut merupakan ODHA, jadi mereka bisa mengenali orang-orang yang diperkirakan terinfeksi HIV/AIDS. Setelah, mencari orang-orang yang kira-kira terinfeksi HIV/AIDS, kemudian mereka melakukan pendekatan secara personal. Tujuannya adalah agar orang yang diperkirakan terinfeksi HIV/AIDS mau melakukan rapid test atau tes laboratorium.

Tapi biasanya korlap akan menyarankan untuk mengikuti rapid tes terlebih dahulu. Rapid tes adalah tes darah yang tata caranya hampir sama dengan tes golongan darah. Darah diambil menggunakan suatu alat, kemudian darah diteteskan di alat penguji. Setelah beberapa lama, hasilnya dapat telihat. Namun, hasil tes ini tidak terlalu akurat, yakni sekitar 67%. Karena itu, orang yang diperkirakan terjangkit HIV, disarankan untuk mengikuti tes di laboratorium. Sehingga ia mendapatkan hasil yang lebih akurat.

  • Penanganan, dilakukan setelah mendapatkan kepastian apakah ia terinfeksi tau tidak. Jika orang tersebut telah terinfeksi, hal yang pertama dilakukan adalah terapi pkisis. Terapi pkisis dilakukan untuk meyakinkan bahwa ODHA merasa tenang dan mau menjalani pengobatan selnjutnya. Hal tersebut dilakukan oleh bagian penanganan pertama.

Sangat sulit untuk meyakinkan ODHA agar ia tidak merasa depresi dan mau mengikuti pengobatan. Seperti yang telah dijelaskan di bab pendahuluan, penderita HIV sering terkungkung dalam kondisi pkisis mereka yang menurun. Hal tersebut semakin menurunkan kondisi fisik di penderita HIV. Sehingga ia dapat terserang berbagai macam penyakit akibat turunnya kondisi fisik penderita HIV (penyakit-penyakit tersebut dinamakan AIDS, yakni penyakit yang diakibatkan oleh virus HIV).

Setelah itu, dilanjutkan pada penanganan secara medis. Bakul Rempah juga mengupayakan pemberiaan obat-obatan gratis kepada si penderita HIV/AIDS yang kurang mampu. Obat tersebut dinamakan ARV (Anti Retro Viral). Setiap harinya ODHA harus meminum minimal dua butir obat tersebut. Walaupun tidak dapat menyembuhkan secara total penyakit tersebut, namun ODHA dapat hidup lebih lama sekitar 20 sampai 25 tahun, bila meminum obat tersebut secara teratur.

  • Pencegahan, Bakul Rempah mempunyai program Harm Reduction, yakni program pencegahan penularan HIV dan AIDS melalui penyuluhan dan sosialisasi, khususnya untuk pengguna NAPZA suntik. Ada beberapa tahapan yang paling mudah, yakni:
  • Tidak menggunakan drugs.
  • Bila sudah menggunakan drugs, maka pengguna tidak boleh sampai cucaw.
  • Tidak menggunakan insul (jarum suntik) yang kotor atau bersama-sama.
  • Bila menggunakan insul secara bersama-sama, maka jarum tersebut harus steril, yakni dengan menggunakan pemutih.

CSO ini juga bekerja sama dengan beberapa LSM lain yang bergerak di bidang yang sama. Antara lain: Komisi Penanggulangan Aids (KPA), Bakti Husada, USAID, Family Heatlh International (FHI), Yayasan Kita, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi DKI Jakarta.

Penanggulangan HIV dan Pemberdayaan Masyarakat

Melihat program yang telah dilaksanakan oleh organisasi Bakul Rempah, kerangka konseptual yang digunakan penulis untuk menganalisis gejala yang terjadi pada organisasi tersebut adalah konsep advokasi yang difokuskan kepada advokasi kelas, yakni bentuk advokasi yang melibatkan banyak orang, baik stake holder maupun korban penularan HIV AIDS nya. Pasalnya, bentuk kegiatan yang dilakukan oleh organisasi Bakul Rempah tersebut lebih merupakan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang teralienasi dari pergaulan di masyarakat, dalam hal ini ODHA.

Selain itu, keberadaan organisasi Bakul Rempah juga sangat bermanfaat bagi mereka yang terinfeksi HIV/AIDS. Dengan demikian, organisasi Bakul Rempah termasuk dalam kelompok strategis yang turut membantu pemerintah secara mandiri dalam penanggulangan dan pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Posisi organisasi Bakul Rempah ini menjadi sangat strategis karena organisasi tersebut memiliki sumber daya-sumber daya strategis yang tidak dimiliki oleh pemerintah, seperti tenaga relawan, konsultasi gratis, memiliki link terhadap komisi penanggulangan AIDS propinsi DKI Jakarta, dan tidak lupa mereka juga memiliki segudang pengalaman mengenai bagaimana penuluran HIV/AIDS dan cara penanggulangannya. Pasalnya, sebagian dari anggora organisasi Bakul Rempah dulunya adalah seorang ODHA yang telah berhasil direhabilitasi.

Penutup

Peran organisasi Bakul Rempah juga bukan hanya sebagai pencegah berlanjutnya penularan HIV/AIDS, namun mereka juga berperan dalam memberikan pengertian dan motivasi bahwa menjadi penderita HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya dan mereka juga tetap dibutuhkan oleh masyarakat.

Disinilah tampak bahwa Bakul Rempah mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat dalam menjalankan program-programnya yang terkait penangulangan HIV dan AIDS di Wilayah Jakarta Utara, khususnya di Tanjung Priok. Dengan program pemberdayaan dilakukan oleh Bakul Rempah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Daftar Pustaka

Sumber Buku:

BPS. Jakarta Utara dalam Angka. (Jakarta: BPS). 2007.

Suku Dinas Kesehatan Masyarakat. Buku Data Saku Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Kotamadya Jakarta Utara Tahun 2007. (Jakarta: Suku Dinas Kesehatan Masyarakat). 2007.

Sumber Lain:

http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1752&Itemid=2. Diakses pada tanggal 7 Juni 2008.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/13/nas05.html. Diakses pada tanggal 10 Juni 2008.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s