Menjelajahi Kota Tua dengan Senter…

KOMPAS.com – Jagra (70) mulai berjalan pelan karena lelah. Namun matanya masih menyorotkan semangat menjelajahi Kota Tua, Jakarta. Usia bukan halangan baginya untuk menempuh perjalanan secara jalan kaki. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat peserta Wisata Malam Kota Tua Jakarta terkesima dengan sisa-sisa benteng VOC. Berbekal senter, mereka menjelajahi Kota Tua mulai dari berbagai museum, jalanan, dan bangunan bersejarah di tengah gelapnya malam.

Sebelumnya, para peserta berjalan iring-iringan membelah perkampungan sempit. Lalu melewati kolong tol hingga menyusuri kali Ciliwung. Beberapa peserta sudah mulai bertanya-tanya ke manakah akhir perjalanan ini. “Ini kita mau dibawa ke mana, ya?” tanya Jagra kebingungan namun penasaran. Tembok tinggi dari batu bata mulai terlihat di sisi jalan. Kemudian, rombongan diarahkan berjalan ke sebuah reruntuhan. Ternyata lokasi tersebut dulunya adalah gudang rempah-rempah VOC sisi timur.

Sisa-sisa reruntuhan tembok merupakan benteng Batavia. “Tadinya beberapa tembok menyambung, tapi sekarang sudah tidak lagi,” jelas pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI), Asep Kambali. Ia menuturkan benteng tersebut banyak yang telah digusur warga untuk menjadi lahan huni. Di atas benteng yang berlebar sekitar dua meter tersebut, berfungsi sebagai tempat para tentara kolonial melakukan patroli. Di tengah kegelapan malam pun terlihat benteng tersebut terbuat dari batu bata merah.

“Bata merah itu buatan lokal dari Tangerang. Kalau diperhatikan ada yang bata berwarna agak kuning, itu buatan Belanda. Ini terbuat dari batu andesit yang biasa dipakai untuk pemberat kapal,” kata Asep. Sayang, benteng kokoh VOC itu kini hanya reruntuhan tak terawat.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Sunda Kelapa untuk melihat kayu-kayu yang merapat. Sensasi melihat Pelabuhan Kelapa Sunda di malam hari memang sangat berbeda. Siang hari, lalu-lalang pekerja dan kapal-kapal begitu ramai dan padat. Sementara malam hari, kapal-kapal begitu tenang layaknya sedang tertidur. “Dulu Pelabuhan Sunda Kelapa diterjang tsunami tahun 1883 saat Krakatau meletus. Akhirnya Belanda bikin pelabuhan baru, Pelabuhan Tanjung Priok,” jelas Asep.

Perjalanan berlanjut ke pemberhentian terakhir yaitu Jembatan Kota Intan. Asep menceritakan jembatan tersebut selalu berganti-ganti nama. Mulai dari sebutan Jembatan Inggris, Jembatan Juliana, sampai Jembatan Pasar Ayam. “Disebut Jembatan Pasar Ayam karena banyak yang jualan ayam di sini,” terang Asep.

Ia menuturkan saat ini, jembatan tersebut sudah tidak bisa diangkat. Pada masa kolonial, kapal-kapal yang mau masuk pelabuhan bisa melewati jembatan tersebut.

“Di kali di bawah kita ini, banyak artefak meriam dan juga mungkin tengkorak etnis Tionghoa saat pembantaian 1740. Meriam Si Jagur yang ada di Museum Fatahillah juga ditemukan di sini,” kata Asep. Tepat di Jembatan Kota Intan waktu sudah menujukan pukul satu pagi.  Di lokasi terakhir inilah para rombongan pun pulang.

Di tengah kegelapan malam, mereka menempuh perjalanan sejak pukul sembilan malam mulai dari Museum Bank Mandiri. Lelah sudah pasti. Karena total perjalanan yang sepenuhnya ditempuh dengan jalan kaki tersebut berlangsung selama empat jam. Tapi rasa lelah terbayar dengan pengetahuan sejarah. Ibaratnya pelesir berilmu. “Kapan ada lagi? Saya mau ikutan lagi,” tanya Jagra saat acara selesai.

Asep menjelaskan wisata malam biasa diselenggarakan KHI sejak tahun 2005. “Bisa dibilang kita ini pelopor wisata malam. Awalnya malah dulu kita buat program menginap di museum,” katanya. Ia menuturkan wisata menginap di museum tersebut terinspirasi dari film asal Amerika Serikat berjudul “Night in The Museum” yang dibintangi oleh Ben Stiller.

Kenapa wisata Kota Tua malah dilakukan di malam hari? Menurut Pendiri KHI Asep Kambali, nuasan wisata Kota Tua di malam hari sangat berbeda jika dilakukan di siang hari. “Lebih berasa kunjungannya. Kalau siang hari kan sudah biasa. Malah kalau malam lebih tenang dan gak ada macet. Yang kita kunjungi malam hari tidak hanya museum, tapi juga bangunan bersejarah,” jelasnya.

Ia menceritakan saat pertama kali mengadakan wisata malam hari tersebut, banyak yang merasa takut. “Tapi makin ke sini malah makin ramai,” lanjutnya.

Ia mengakui paket wisata Kota Tua di malam hari termasuk program tur favorit di KHI. KHI sendiri sudah sering mengadakan wisata Kota Tua di malam hari secara gratis. Namun, tambah Asep, banyak pula masyarakat umum yang meminta tur secara pribadi maupun rombongan di luar program gratis yang diadakan KHI.

http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s