Istanbul, Tahta Islam Warisan Kerajaan Bizantium

on

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” (H.R. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal al-Musnad 4/335)

Hadis di atas merupakan salah satu motivasi umat Islam dalam merebut Konstantinopel. Letak Istanbul sangat strategis, karena itu Napoleon Bonaparte pernah menggambarkan,”Jika di dunia hanya terdapat satu negara, maka ibukotanya adalah Istanbul”. Selain penghubung Asia dan Eropa, kota ini sejak dulu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan. Istanbul terpilih menjadi Ibokota Kebudayaan Eropa hingga tahun 2010 dan terdaftar dalam salah satu daftar warisan pusaka dunia UNESCO sejak tahun 1985. (wikipedia)

Istanbul merupakan kota dengan kepadatan penduduk terbesar ketiga di Eropa. Sebagai pusat kebudayaan dan finansial negara Turki. Kota ini terletak di barat daya wilayah Marmara di tepi bagian selatan selat Bosporus yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Bagian barat Istanbul adalah Eropa sedangkan Bagian Timur Istanbul masuk wilayah Asia. Luasnya sekitar 1536 kilometer persegi.

Dalam perjalanan sejarahnya, kota ini menjadi ibukota dari beberapa imperium besar, kerajaan Romawi (330-395 M), Byzantium (395-1204 M dan 1261-1453 M), kerajaan Latin (1204-1261 M) dan terakhir Turki Usmani tahun 1453-1922 M. (wikipedia)

Istanbul Sebelum Islam

Sejarah Konstantinopel dimulai pada abad ke-empat masehi. Kekuasaan Imperium Romawi Kuno berkembang dengan pesat. Konstantinus Yang Agung merasa kota Roma sudah tidak layak untuk menjadi ibukota. Akhirnya ia memilih daerah yang sekarang bernama Istanbul sebagai ibukota barukerajaan Romawi.

Ia membangun benteng dan memperluas kota Konstantinopel. Kaisar Konstantinus Yang Agung membangun gedung pemerintahan, rumah-rumah ibadah, istana, dan pemandian umum. Kemudian pada tahun 330 M, Kaisar Konstantinus secara resmi menetapkan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Konstantinopel berarti Kota Kaisar Konstantinus. Penerusnya, Kaisar Konstantinus II melanjutkan pembangunan. Ia mengembangkan dan memperindah kota dengan membangun saluran air dan monumen.

Pada tahun 395 masehi, kerajaan Romawi akhirnya dibagi menjadi dua wilayah, Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat runtuh pada abad kelima masehi, sedangkan Romawi Timur mampu bertahan selama seribu tahun.

Sejarawan modern memilih Byzantium untuk menyebut Romawi Timur. Tujuannya untuk membedakan dengan Romawi Barat. Agama Nasrani awalnya berkembang pada masa Byzantium. Segala bentuk upacara keagamaan mengikuti tradisi Kristiani. Sedangkan hukum dan peraturan pemerintahan diadopsi dari Roma.

Pada pertengahan abad kelima masehi, Kaisar Theodosius memperluas kota Konstantinopel. Ia mengitari kota dengan membangun sebuah benteng yang megah. Panjang benteng mencapai 6492 meter. Satu abad kemudian, kerajaan Byzantium mencapai puncak kejayaannya di bawah Kaisar Justinian.

Masa-masa keemasan telah dilalui kerajaan Byzantium. Kota Konstantinopel berhiaskan monumen dan gereja. Keadaan ini mengundang hasrat dari bangsa Persia dan Arab untuk merebut Konstantinopel. Beberapa serangan dari Persia mampu dipatahkan oleh Byzantium. Namun antara tahun 726 hingga 842 M, keluarga kerajaan saling berebut kekuasaan. Gereja dituduh menjadi dalang dibalik segala keributan. Akibatnya pemerintah melarang segala jenis bentuk peribadatan. Hampir semua simbol keagamaan seperti patung dan lukisan dihancurkan. Setelah itu, tahta kerajaan dengan mudah berpindah tangan dari raja satu ke raja lain.

Akibat krisis intern kerajaan, Byzantium tidak mampu bertahan ketika Kerajaan Latin menduduki Konstantinopel tahun 1204 M. Tentara Latin berisi prajurit dari angkatan perang pada Perang Salib keempat. Selama 57 tahun tentara Latin merampok biara, monumen dan gereja yang ada di Konstantinopel. Baru pada tahun 1561 M pihak kerajaan mampu mengambil kendali Konstantinopel. (istanbul.gov.tr)

Penaklukan Istanbul

Usaha-usaha penaklukan Konstantinopel telah dilakukan umat Islam sejak masa sahabat. Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. (Syalabi, 1998: 16)

Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Perang Salib yang bengis dan sadis. Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani. Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. (Hitti, 1970: 905-906). Sejak saat itu sultan Muhammad mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, artinya “Tahta Islam”. Ia juga memindahkan ibukota kerajaan ke daerah baru tersebut. Sebelumnya ibukota Kerajaan Usmani adalah Adrianopel. Sebuah kota dari negara Asia yang terletak di wilayah Eropa (Maryam, 2003:131)

Sejarah menyebutkan tidak pernah ada pembantaian terhadap penduduk Konstantinopel. Bahkan, pemerintahan Islam Usmani bekerja sama dengan umat Kristen untuk kembali membangun perekonomian, menjalin persahabatan dengan Yunani. Dinasti Usmani juga terus mengepakkan sayap kekuasaannya ke wilayah Mesir, Arabia, dan Syiria. Yang tak kalah pentingnya, kerajaan Usmani menyebarkan ajaran Islam hingga ke kawasan Balkan. (www.yunusnews.com.)

Seiring dengan menancapnya dominasi Islam, wajah bekas kota Konstantinopel itu pun berganti rupa. Bangunan masjid bermunculan, namun tetap dengan corak arsitektur Bizantum yang khas.

Guna menambah jumlah penduduk Muslim di Istanbul, umat Islam yang tinggal di Anatolia dan Rumelia dianjurkan untuk bermigrasi ke Istanbul. Akhir 1457, penduduk Edirne migrasi besar-besaran ke Istanbul. Pada 1459, kota terbesar di Eropa itu dibagi menjadi empat wilayah administratif.


Perkembangan Peradaban Islam

Penaklukkan Konstantinopel merupakan jalan mulus bagi Muhammad al-Fatih untuk membuka pintu perluasan ke Eropa. Dari sinilah zaman baru bagi Turki Usmani dimulai. Era keemasan Turki Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1574) dan Salim II (1566-1574). Raksaa baru ini berdiri mengangkang di Bosporus, satu kakinya di Asia dan kaki lainnya di Eropa. Penguasa Turki merasa bahwa ialah pewaris kekaisaran Byzantium.

Sebagai ibukota,di sinilah tempat berkembangnya kebudayaan Turki yang merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan. Bangsa Turji Usmani mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Sebagai bangsa yang berasal dari Asia Tengah, Turki memang mudah berasimilasi dengan bangsa lain. Dalam bidang pemerintahan dan kemiliteran, Turki mengambil dari kebudayaan Byzantium. Sedangkan dalam bidang keagamaan, ilmu, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum mereka berguru kepada bangsa Arab. Hingga akhirnya huruf Arab menjadi huruf resmi kerajaan. (Yatim, 2001: 288)

Sebagai sebuah kota besar pada zamannya, di Istanbul berdiri berbagai sarana dan prasarana publik. Tak kurang ada 81 masjid besar serta 52 masjid berukuran sedang di kota itu. Untuk mendidik para generasi muda, tersedia 55 madrasah, tujuh asrama besar untuk mempelajari Al-Qur’an.

Semasa Sulaiman I memimpin, ia membangun banyak masjid di Istanbul. ia juga membangun sekolah, rumah sakit, pemandian, dan saluran air. Sebanyak 235 buah bangunan berdiri pada masanya.

Fasilitas sosial pun bermunculan, tak kurang lima takiyah atau tempat memberi makan fakir miskin berdiri. Tiga rumah sakit disediakan untuk mengobati penduduk kota. Tujuh buah jembatan juga dibangun untuk memperlancar arus transportasi. Guna menunjukkan kejayaannya, kerajaan Usmani membangun 33 istana dan 18 unit pesanggrahan. (Syalabi, 1998: 25)

Selain itu, 33 tempat pemandian umum juga telah disediakan di berbagai penjuru kota. Untuk menyimpan benda-benda bersejarah, pemerintah Usmani pun menyediakan lima museum (Yatim, 2001: 106). Kemakmuran muncul karena adanya kedamaian pada penduduknya, simbol dari kemakmuran sebuah bangsa adalah peninggalan yang berfungsi memenuhi kebutuhan tersier manusia, sebagai bukti untuk masa depan.

Pada 14 Juli 1509, Istanbul sempat diguncang gempa bumi dahsyat atau yang dikenal sebagai ‘kiamat kecil’. Ribuan bangunan yang awalnya berdiri kokoh akhirnya luluh lantak. Mulai 1510 M, Sultan Bayezid bahu membahu membangun kembali kota Istanbul selama 80 tahun. Hingga akhirnya, kota Istanbul kembali tampil megah dan gagah.

Masyarakat Istanbul sangat heterogen. Kesultanan Usmani membentuk reaya yang terorganisasi menjadi sejumlah komunitas kecil. Sudut pandang Usmani menekankan kelancaran urusan pendidikan, pembayaran zakat, pengadilan dan shodaqoh.

Dalam bidang pendidikan, Sultan Sulaiman I mendirikan beberapa universitas di Istanbul. Pada akhir abad 15, beberapa perguruan tinggi dalam sebuah hirarki yang menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar. Madrasah diorganisir menurut fungsi dan tingkat pendidikan yang diajarkan. Madrasah tingkat rendah mengajarkan nahwu, sharaf, mantiq, teologi, astronomi, geometri dan retorika. Perguruan Tinggi mengajarkan hukum dan teologi. (Maryam, 2003: 137)

Pada mulanya, perkembangan kehidupan keagamaan di Istanbul hanya di bidang Tarekat. Kajian kajian ilmu keagamaan seperti Fiqh, Kalam dan Hadis tidak mengalami perubahan berarti. Para penguasa cenderung menegakkan satu paham keagamaan dan menekan paham lain. Kitab al-Hushun al-Hamidiyah menunjukkan Sultan Abdul Hamid II ingin mempertahankan Asyariyah dari kritikan lawan. Ulama hanya diperbolehkan menulis syarah dan hassiyah terhadap kitab-kitab klasik. Akibatnya, ijtihad pada masa itu tidak bisa berkembang (Yatim, 2001: 137).

Pada tahun 1727 M pada masa Ibrahim Muteferika -seorang ilmuwan terkemuka- membuka percetakan di Istanbul. Sebagai respon terhadap fatwa dari Syekh al-Islam kerajaan. Buku-buku selain al-Quran, Hadits, Fikih, ilmu Kalam dan Tafsir juga mulai diperbolehkan untuk dicetak. Sejak itulah, buku-buku tentang kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan lainnya dicetak. Apalagi mulai 1727 M sudah mulai berdiri badan penerjemah.

Berbeda dengan Umayyah, Abbasiyah dan Andalusia, penekanan pembangunan pada masa Daulah Usmani lebih berkonsentrasi pada pertahanan dan armada perang. Fungsinya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Sementara perkembangan ilmu pengetahuan kurang mendapat prioritas.

Aya Sophia

Bangunan Aya Sophia didedikasikan oleh Kaisar Kostantinus II (337-361) pada tahun 360. Aya Sophia dirancang oleh Isidorus dan Anthemus. Arsitekturnya mengikuti model bangunan lengkung Romawi Klasik. Pada saat itu Aya Sophia lebih dikenal dengan gereja Theodosius. Lebih seratus tahun berikutnya, tepatnya tahun 532 gereja Theodosius dihancurkan, dan secara besar-besaran, atas perintah Raja Justinianus I (527-565 M) kembali dibangun. Raja Justinianus I mendatangkan arsitek dari seluruh dunia ke Konstantinopel untuk pembangunannya. Bahan-bahan bangunan juga didatangkan dari berbagai negara seperti Syria, Mesir dan Anatholia beserta corak arsiteknya. Gereja kembali dibuka tanggal 27 Desember 537 setelah memakan waktu selama 5 tahun, 10 bulan dan 24 hari. (commongroundnews.org)

Setelah Konstantinopel berpindah ke tangan kerajaan Islam, maka Sultan Muhammad II merobah Aya Sophia menjadi masjid. Shalat Jum’at pertama dilakukan pada tanggal 1 Juni 1453. Selanjutnya Sultan ini selalu melakukan shalat Jum’at di Masjid ini, sekaligus untuk memelihara bangunannya. Sultan Muhammad II juga mendirikaan masjid yang semegah Aya Sophia. Semasa kepemimpinan Sultan Mahmud (1750-1754). Masjid direhab oleh arsitek Hoja Sinan yang tidak menyukai corak bangunan barat. Sebuah bangunan masjid yang indah penuh dengan kaligrafi di dalamnya serta berbagai keramik dengan corak yang menarik dipandang mata. Tak heran, jika pengaruh Bizantium ikut mewarnai gaya arsitektur Islam di Turki. Kemegahan bangunan Gereja Aya Sophia banyak mewarnai arsitektur masjid di Istanbul. (Maryam, 2003: 137)

Bentuk dan corak Aya Sophia menjadi inspirasi bagi kemajuan arsitektur. Bentuk bangunannya yang lengkung dan khas Romawi Klasik dijadikan acuan untuk membuat bangunan lain. Beberapa arsitek kemudian merancang fitur seperti kubah tunggal yang besar, menara yang tinggi menjulang, dan tiang besar yang menyangga ruang tengah istana. Hal tersebut dapat dilihat pada masjid Sultan Muhammad II, masjid Abu Ayyub al-Anshari, masjid Sulaiman al-Qanuni dan masjid Bayazid. (Maryam, 2003: 137)

Kehidupan Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Istanbul mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama. Kerajaan sangat terikat kepada syariat. Fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Dalam bidang pemerintahan, sultan-sultan Usmani menempatkan Mufti atau Syaikhul Islam di Istanbul sebagai wakil sultan dalam mengurusi bidang agama. Mufti berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarkat. Tanpa legitiasi seorang mufti, keputusan hukum kerajaan tidak bisa berjalan. Sedangkan untuk urusan non-keagamaan, ditunjuklah seorang Shadrul Adham (Yatim, 2001: 137).

Para Sultan menyadari kebesaran Turki Usmani tidak bisa lepas dari peran Tarekat Bektasy. Ahmad Yasawi (w. 562/1167) mendirikan Yasawiyyah di Turki. Tarekat ini berpengaruh di Turkestan Barat, dan dari tarekat induk itu lahir tarekat Bektasyiyyah, yang dikembangkan oleh Hajji Bektasy (w. 1338). Ia berkembang di Anatolia. Ketika ibukota Turki Usmani pindah ke Istanbul, pusat gerakan Tarekat Bektasy juga pindah. Hal ini dikarenakan sebagian besar prajurit elit Jenissari menganut mazhab ini. Sebuah sumber mengkategorikan Bektasy sebagai tarekat pengikut Syiah (van Bruinessen: 89-92). Tarekat lain yang berkembang adalah Maulawi. Bedanya, tarekat Maulawi mendapat dukungan dari kaum sipil dan penguasa. (Yatim, 2001: 137)

Secara umum, kedua tarekat ini mengajarkan keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Ajaran lainnya adalah tentang berkah, syafaat, karamah dan ziarah kubur. Tarekat ini banyak dianut karena berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan. Selain itu, tasawuf yang diajarkan oleh tarekat ini bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan lokal. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk Islam dan setengah Islam. (Lapidus: 444-445)

Sikap di atas pernah ditunjukkan oleh Sultan Muhammad II, ia melakukan penataan hal ihwal orang Kristen Yunani yang tinggal di Istanbul. Dalam penataan tersebut, sultan Muhammad II memberikan bebas pajak kepada gereja. Sultan sebagai orang Islam menghormati keyakinan orang lain. Hal yang sama juga berlaku bagi agama Yahudi. Setiap agama mempunyai komunitasnya sendiri yang disebutmillet. Sultan memberikan kebebasan umat Kristen untuk memilih patriach. Setelah patriach terpilih, Sultan secara langsung melantiknya dengan memberikan tongkat dan memasukkan cincin ke jarinya.

Istanbul adalah ibukota Turki di Eropa, kota ini lebih terkenal dari ibukota Turki di Asia, Ankara. Sebagaimana Jakarta, Istanbul merupakan gambaran keanekaragaman orang Turki. Di sana terdapat peninggalan-peninggalan yang menunjukkan proses pencarian identitas dari bangsa Turki. Sebuah bangsa yang semula hanyalah suku-suku kecil nomaden. Mereka memeluk Islam dan menjadi prajurit–prajurit kerajaan Abbasiyah. Hingga kemudian menguasai tiga benua (Asia, Afrika dan Eropa) selama tiga abad dari tahun 1453 M sampai abad 18 M. (Hitti, 1970: 914)

Saat ini, cara berpikir orang Turki dalam bidang keagamaan terbelah menjadi dua bagian. Bagian barat dan bagian Timur. Gerakan Keislaman di Turki bagian Barat berpusat di Ankara dan Istanbul, sedangkan di bagian Timur berpusat di Kahramannaraz dan Mardin. Mayoritas penduduk Istanbul bermazhab Hanafi. (Abdullah, 1996: 188)

Di Istanbul terdapat dua kelompok pemikiran yang mewakili kehidupan keagamaan di Turki, yaitu Kelompok Tarekat dan Kelompok Fundamentalis

Tarekat Naqsyabandiyah adalah kelompok yang basisnya sebagian besar di wilayah Anatolia. Pengikut tarekat ini kebanyakan taat kepada syeikh yang akhirnya membentuk perkumpulan politik. Hingga saat ini, golongan Naqsyabandi mempunyai hubungan yang erat dengan pemerintah dan partai politik.

Kelompok Fundamentalis ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu. Mereka lebih suka bila disebut Muslim saja. Meskipun pada kenyataannya dalam kehidupan keagamaan mengikuti mazhab Hanafi. Sebagaimana kelompok Tarekat, kelompok ini ingin mengembalikan Islam seperti zaman sahabat (Abdullah, 1996:185).

Pandangan umat Islam Indonesia terhadap muslim Turki hingga saat ini masih miring. Hal itu merupakan efek dari sekularisasi yang dilakukan oleh Kemal Attaturk. Dalam pandangan kita, sekularisasi selalu bermakna negatif. Kenyataannya itu sudah berlangsung pada masa lalu (tahun 1930-an). Sejak dasawarsa 1980-an, perkembangan Islam di Istanbul, atau Turki pada umumnya sampai sekarang sudah banyak berubah. Kerinduan akan nuansa agamis pemuda-pemuda Turki sudah mendapat perhatian dari pemerintah.

http://sejarah.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s