Kite Runner

on

Diangkat dari kisah novel dengan judul sama, film “The Kite Runner” cukup berhasil menyampaikan “pesan” kemanusiaan dalam buku best seller karya Khaled Hoseini. Mengisahkan 2 orang sahabat kecil, Amir dan Hasan, yang hidup di kota Kabul, Afganistan, sebelum dan saat perang antara pasukan Taliban dan Rusia. Keduanya menjalani persahabatan erat hingga akhirnya terpisah. Amir, diperankan oleh Khalid Abdalla, adalah seorang anak dari ras Pashtun (ras terhormat di Afganistan) yang hidupnya berkecukupan, kebalikan dengan Hasan, anak angkat seorang pelayan (suku Hazara) pada keluarga Agha Sahib (ayah Amir). Keduanya seolah tak terpisahkan dalam suka dan duka. Namun kesetiaan Amir teruji saat suatu ketika musim layang-layang–Hasan yang sedang mengejar layangan mendapatkan siksaan dari beberapa anak lain, sementara Amir yang mengetahui kejadian tersebut tak mampu menolong. Sejak kejadian itu, ditambah gejolak politik Afganistan yang kian tak menentu menyebabkan 2 sahabat ini berpisah beberapa tahun lamanya, Amir mengungsi ke Amerika, sedangkan Hasan tetap di Afganistan. Rasa bersalah pada Hasan semasa kecil itu lah yang kemudian menuntun Amir kembali ke Afganistan. Namun kali ini ia menemui kenyataan bahwa Hasan telah mati dan meninggalkan seorang anak bernama Sohrab yang diculik dan mendapat siksaan kaum Taliban. Memang patut dipertanyakan, mengapa Amir rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan Sohrab. Apakah hanya karena ingin menebus dosa masa lalu terhadap Hasan ? Bagi yang sebelumnya telah membaca novel “The Kite Runner” pasti sudah tahu jawabannya. Dialog-dialog yang ditampilkan mengalir sangat baik dan berisi. Bahkan pada beberapa bagian diselingi humor segar. Misalnya, pada adegan usai sepulang nonton film “The Magnificent Seven“, Amir dan Hasan sangat antusias dengan film Amerika itu dan memunculkan dialog lucu : Hasan ingin suatu saat pergi ke Iran untuk bertemu denganCharles Bronson (pemeran favoritnya di The Magnificent Seven) yang menurut perkiraannya berasal dari negeri para mullah itu. (padahal hanya karena “The Magnificent Seven” di-dubbing dalam bahasa Farsi) Antara adegan satu dengan yang lain saling terkait. Meskipun pada beberapa bagian menampilkan action tetapi jangan harap menemukan action penuh laga seperti film-film Jacky Chan. Paling spektakuler adalah adegan adu layang-layang, efek-efek yang dihadirkan cukup menarik dan hidup. Siapa saja yang menyaksikan edegan ini pasti terkesan, apalagi bagi sebagian besar kita, adegan ini (menerbangkan dan mengejar layangan putus) akan membangkitkan ingatan masa kecil yang tak lepas dari permainan tradisional ini. Dari sekian hal menarik yang mampu ditampilkan “The Kite Runner” adalah kemampuan memberi inspirasi penonton. Selain sinematografi brilian dan adegan-adegan mengalir baik, sebuah film dikategorikan bagus apabila juga memenuhi unsur ketiga ini: menginspirasi. Diakhir cerita, film ini ditutup ending menarik dan menyentuh khas Marc Poster. Dan bersiaplah dengan tissue atau sapu tangan untuk mengusap tetesan air mata anda. Marc Porster–yang sukses menyutradai “Finding Neverland” (dibintangi Johny Deep)—bukan saja cukup apik menggambarkan setiap adegan dalam film ini tetapi juga begitu menyentuh. Mulai dari kekejaman yang dilakukan sekelompok manusia berkedok agama, tertindasnya para kaum wanita dan tidak adanya harapan hidup bagi anak-anak Afganistan. Semua itu mampu diramu Marc Porster tanpa menggurui dan mengada-ada. Dengan film ini, Marc Poster—yang memilih menyutradai Finding Neverland ketimbang Harry Potter (2004)–hendak membuka mata kita bahwa perang dengan segudang alasan dibaliknya hanya akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan peradapan. Pemahaman agama yang sempit juga akan menyengsarakan manusia itu sendiri. Agama seharusnya menjadi rahmat bagi semua manusia dan mempertebal rasa cinta kasih sesama, bukan sebaliknya mengekang dan menyengsarakan kehidupan. Tak heran bila film ini mendapat nomiasi sebagai film Asing terbaik dalam ajang Oscar (2008) dan beberapa penghargaan Award lainnya.

sumber: http://kampoengkoe.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s