TAKTIK LAKI-LAKI PADA SAAT PDKT

LELAKI punya banyak cara untuk membuat lawan jenis terkesan dan bertekuk lutut terhadap dirinya. Jadi, jangan buru-buru percaya jika si dia mengaku menyukai novel karangan Jane Austen sama seperti Anda.

Tak perlu heran melihat kebanggaan kaum adam saat memamerkan kendaraan barunya, atau hobinya beradu otot dengan sesama lelaki misalnya. Hal-hal tersebut hanya sedikit contoh dari berbagai trik lain yang kerap mereka gunakan untuk mencuri perhatian perempuan. Berikut ini adalah sejumlah contoh lainnya:

Menyamakan gaya
Tidak semua lelaki berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan hati seorang gadis. Tapi, tidak tertutup kemungkinan dia berusaha menyoroti aspek tertentu dari dirinya, dan menyembunyikan aspek lain tergantung getaran yang Anda berikan.

Misalnya, jika Anda seorang hipster yang manis, dia mungkin akan bercerita tentang band indie favoritnya. Sedangkan jika Anda kebetulan seorang penikmat sastra, dia mungkin akan bercerita tentang penyair favoritnya.

Memoles resume
Jangan begitu saja percaya jika dia mengaku pernah menjadi sukarelawan di daerah terpencil. Apalagi jika tidak ada bukti yang membenarkan klaim tersebut.

Jadi anak mama
Anda mungkin sering mendapat nasihat bahwa untuk menilai seorang lelaki, perhatikan dulu cara dia memperlakukan ibunya. Nah, tak sedikit lelaki yang memanfaatkan juga hal itu untuk meraih simpati Anda.

Banyak tanya
Tentu tak ada seorang perempuan pun yang tertarik dengan lelaki yang hanya mementingkan diri sendiri. Dalam kencan pertama, banyak bertanya dianggap sebagai tanda ketertarikan. Strategi tersebut tak jarang sengaja digunakan lelaki bahkan bagi yang aslinya pendiam sekali pun ingin menciptakan kesan positif di mata Anda.

media indonesia

Tes Kepribadian Melalui Penataan Ruang Tidur

TEMPAT tidur bukan sekadar tempat terlelap dan beristirahat setelah seharian beraktivitas. Cara Anda mengaturnya juga dapat menjadi petunjuk mengenai kepribadian. Penasaran?

Pilih salah satu gambaran kondisi tempat tidur di bawah ini yang paling sesuai dengan kondisi kamar tidur Anda, lalu simak analisis pakar mengenai kemungkinan kepribadian Anda:

Minimalis
Jika Anda menata tempat tidur sesederhana mungkin, artinya Anda cenderung berpikiran terbuka. Tempat tidur meniru Zen dan tabiat Anda yang tidak rewel. Gaya yang minimalis dan ringkas menunjukkan Anda bersikap langsung dan mengatakan apa yang melesak di pikiran.

Nyaman dan rapi
Gaya yang memperlihatkan kenyamanan fisik dan emosional menunjukkan bahwa Anda sentimental dan setia. Benda-benda seperti selimut tua menunjukkan bahwa hubungan, terutama pertemanan, merupakan hal penting bagi Anda.

Girly dan chic
Tempat tidur bergaya feminin menunjukkan Anda ingin merasa dimanjakan. Sementara itu, pemilihan nuansa warna seprai, selimut, atau sarung bantal yang berani menggambarkan sikap Anda yang santai. Detail yang eye-catching menunjukkan bahwa Anda senang menjadi pusat perhatian.

Berantakan
Tempat tidur yang acak-acakan menunjukkan bahwa Anda sedikit tidak teratur. Tapi, kekacauan tersebut juga berarti Anda tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil (seperti mencocokkan seprai) dan cenderung bersikap spontan. (LI/OL-06)

Kisah Tupai Gagah Berani

Dahulu kala di India, ada sebuah legenda mengenai Tupai yang gagah berani. Didalam hutan rimba yang besar terdapat banyak binatang kecil, binatang-binatang kecil ini hidup dengan damai dan bahagia, karena hutan ini sangat lebat, jarang terjadi hal-hal yang menakutkan, walaupun terkadang ada beberapa binatang besar/buas masuk kedalam hutan ini, binatang-binatang kecil ini akan menghindar sehingga mereka tidak pernah dimangsa oleh binatang buas ini mereka akan hidup dengan damai sampai tua dan mati.

Tetapi pada suatu hari, dari langit petir menyambar dimana-mana, dan menyambar sebuah pohon yang paling besar yang ada dihutan ini, yang menyebabkan pohon besar ini terbakar, api sangat besar menyebabkan kebakaran besar dihutan ini banyak pohon-pohon dan ranting kering menyebabkan api makin besar, semua binatang-binatang kecil didalam hutan terancam nyawanya.

Mereka semua lari kocar kacir keluar dari hutan, mereka tidak tahu setelah terjadi kebakaran hutan, disekeliling hutan binatang buas sedang menunggu mangsanya yaitu binatang kecil yang lari keluar dari dalam hutan untuk dijadikan santapan mereka.

Didalam hutan ini hanya ada seekor tupai yang tidak sama dengan binatang kecil yang lain, dia tidak lari keluar dari hutan, dia malah lari menembus kearah api lari ketengah hutan, ditengah hutan ada sebuah kolam yang airnya hampir kering karena kebakaran hutan ini, tupai kecil ini mencelupkan badannya yang kurus kecil kedalam air kolam yang tinggal sedikit, lalu dengan sekuat tenaganya dia lari kembali ketengah hutan yang terbakar, dengan sekuat tenaga ia mengibas-kibaskan badannya memercikan air dibadannya ketengah api, bermaksud memadamkan api.

Pada saat ini, seorang dewa yang turun dari langit menjelma menjadi seorang kakek tua mendekati tupai ini, lalu berkata :”Anakku, apakah engkau tidak tahu? Dengan caramu yang demikian susah payah sama sekali tidak mungkin bisa memadamkan api yang begitu besar.”

Pada saat ini, ekor tupai yang panjang dan cantik ini sudah terbakar ditiga tempat lukanya berwarna hitam, tetapi tupai ini masih dengan sekuat tenaga mengibas-kibaskan air ditubuhnya ke kobaran api, bermaksud memadamkan api, dalam kesibukannya dia menjawab pertanyaan kakek ini :”mungkin hanya dengan tenaga saya yang kecil ini tidak bisa memadamkan kobaran api, tetapi saya percaya dengan kemauan saya, paling sedikit bisa menyelamatkan binatang-binatang kecil yang terjebak dalam api! Atau mungkin, karena kegigihan saya, bisa membuat para dewa dilangit menjadi terharu sehingga bisa turun hujan yang deras sehingga bisa memadamkan api ini …..”

Ketika berkata demikian, dia mendengar kakek tua disebelahnya tertawa dengan keras, keadaan disekeliling tupai kecil seketika menjadi sejuk, api besar dengan segera padam, dewa ini mengulurkan tangannya menyentuh ke ekor tupai yang terluka segera tiga tempat yang luka yang berwarna hitam berubah menjadi bunga yang cantik, demikianlah asal mula tupai yang berekor bunga cantik yang terdapat di India.

Seperti kita ketahui, tenaga tupai kecil ini sangat terbatas, tetapi karena kepercayaannya yang kuat dan kegigihannya serta keberanian yang besar menyebabkan dewa dilangit menjadi terharu, sehingga segera memadamkan api besar, saya harap didalam kehidupan ini setiap saat kita dapat menjadi seorang yang mempunyai kepercayaan, kegigihan serta keberanian yang besar seperti tupai kecil ini.

http://foggy.mywapblog.com

Kisah seorang pemuda dan tukang sihir

Dari Shuhaib r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulu ada seorang raja dari golongan ummat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja: “Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir.”

Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini di tengah perjalanannya apabila seseorang rahib -pendeta Nasrani – berjalan di situ, ia pun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Apabila ia telah datang di tempat penyihir – yakni dari pelajarannya, ia pun melalui tempat rahib tadi dan terus duduk di situ – untuk mendengarkan ajaran- ajaran Tuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnya apabila datang di tempat penyihir, ia pun dipukul olehnya – kerana kelambatan datangnya. Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: “Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahawa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahawa engkau ditahan oleh penyihir.”

Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang- halangi orang banyak – untuk berlalu di jalanan itu. Anak itu lalu berkata: “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?” Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: “Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisiMu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.” Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itu pun berkata: “Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya.Sesungguhnya engkau akan terkena cubaan, maka jikalau engkau terkena cubaan itu, janganlah menunjuk kepadaku.”

Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengubati orang banyak dari segala macam penyakit. Hal itu didengar oleh kawan seduduk – yakni sahabat karib – raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: “Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku.” Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, hanyasanya Allah Ta’ala yang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau tuan suka beriman kepada Allah Ta’ala, saya akan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan tuan. Kawan raja itu lalu beriman kepada Allah Ta’ala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah. Raja kemudian bertanya: “Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?” Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: “Tuhanku.” Raja bertanya: “Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?” Ia menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Kawannya itu lalu ditindak oleh raja tadi dan terus-menerus diberikan seksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yang menyebabkan kesembuhannya. Anak itu pun didatangkan. Raja berkata padanya: “Hai anakku, kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu.” Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seseorang pun, hanyasanya Allah Ta’ala jualah yang menyembuhkannya.” Anak itu pun ditindaknya, dan terus-menerus diberikan seksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendeta pun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu!” Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung. Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja dahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu itu!” Ia pun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pula lah gergaji itu di tengah kepalanya lalu dibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu. Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu.” la pun menolak ajakannya. Kemudian anak itu diberikan kepada sekeIompok sahabatnya lalu berkata: “Pergilah membawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu.” Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Kemudian gunung itu pun bergerak keras dan orang- orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menuju ke tempat raja. Raja berkata: “Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: “Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah tongkang dan belayarlah sampai di tengah lautan. Jikalau ia kembali dari agamanya – maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ke lautan itu.” Orang-orang bersama- sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Tiba-tiba tongkang itu terbalik, maka tenggelamlah semuanya. Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: “Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Ta’ala telah melepaskan aku dari tindakan mereka.” Selanjutnya ia berkata pula pada raja: “Tuan tidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang ku perintahkan.” Raja bertanya: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah dari tempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini,” terus lemparkanlah anak panah itu. Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku.”

Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan pada sebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalu meletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini.” Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia.

Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: “Kita semua beriman kepada Tuhannya anak ini.” Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: “Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba – yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman.”

Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi – yang bertebing dua kanan-kiri – iaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan dinyalakan api di situ, Ia berkata: “Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu,” atau dikatakan: “Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya.” Orang banyak melakukan yang sedemikian itu – sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: “Hai ibunda, bersabarlah, kerana sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran.” (Riwayat Muslim)

http://solihin87.abatasa.com

Kisah Seorang Pemuda dan Jalan yang Tertutup Batu

Alkisah, pada jaman dahulu di sebuah negeri, seorang raja yang bijaksana berniat untuk menguji rakyatnya. Di suatu malam, diam-diam ia memerintahkan pasukannya untuk menutup jalan utama — yang biasa digunakan untuk berdagang — dengan sebuah batu yang cukup besar sehingga tidak mungkin dapat dilewati. Keesokan harinya, satu demi satu penduduk yang melewati jalan tersebut terlihat berbalik arah untuk mengambil jalan memutar yang lebih jauh, dengan wajah kesal dan terus mengomel. Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa saat.

Hingga pada suatu, seorang pemuda dengan terburu-buru melangkahkan kakinya di jalan tersebut. Ia terhenyak ketika mengetahui bahwa ada batu besar yang menutupi jalan tersebut. Orang-orang yang kebetulan sedang berada di sana menyarankan dia untuk menempuh jalan memutar yang setidaknya tiga kali lebih jauh jaraknya. Pemuda tersebut terdiam. Keningnya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. Tak lama, tanpa diduga oleh penduduk yang lain, ia pun berjalan mendekati batu tersebut dan mendorongnya.
“Percuma!” ujar seorang bapak yang sedang membawa sekeranjang wortel, “kami juga sudah mencobanya dan batu itu sama sekali tidak mau bergerak.”

Penduduk yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Sebagian bahkan mulai menatap pemuda tersebut dengan sinis.

“Si Herikules saja tidak mampu mendorongnya. Mana mungkin kamu bisa?”, teriak seorang wanita berbaju batik, diikuti dengan tawa cemooh orang-orang yang ternyata semakin banyak jumlahnya. Aksi nekat pemuda tersebut rupanya menarik minat mereka untuk menjadi penonton.

Tanpa menghiraukan mereka, pemuda tersebut dengan sekuat tenaga terus mendorong… Mendorong… Mendorong… Mendorong… Hingga tiba-tiba… GRRKKKK.. batu besar itu bergeser! Penduduk yang melihatnya terkaget-kaget dan hanya bisa melongo menyaksikan pemuda tersebut, dengan mengerahkan tenaganya yang masih tersisa, mulai menggeserkan batu tersebut sedikit demi sedikit hingga akhirnya jalan tersebut cukup lebar kembali untuk bisa dilewati.

Merasa capek, pemuda tersebut pun terduduk di tanah. Di sana ia melihat ada sebuah kotak kayu kecil, yang sedikit tertimbun oleh pasir. Letaknya persis di bawah batu besar tadi. Penasaran, ia pun mengambil kotak tersebut, membukanya, dan menemukan ratusan koin emas di dalamnya beserta sepucuk surat dari sang raja — lengkap dengan stempel kerajaan dan tanda tangan beliau — yang menyatakan bahwa siapa saja yang mampu menyingkirkan batu tersebut berhak atas segala yang ada di dalam kotak kayu.

Pemuda tersebut tidak bisa menahan rasa harunya. Butiran air mata berjatuhan satu demi satu.

“Nak,” ibu-ibu berbaju batik menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke arah ibu tersebut. “Bagaimana mungkin kamu bisa mendorong batu sebesar itu? Apa rahasianya? Aku rasa kamu tidak mungkin lebih kuat dari Herikules.”

“Saya memang tidak lebih kuat dari Herikules, bu,” jawab pemuda tersebut lirih, “namun, jika ibu berada pada posisi saya, dengan kedua orang tua yang sakit keras dan satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan mereka hanya dapat dibeli di apotik yang ada di ujung jalan ini, saya yakin ibu pun pasti mampu untuk mendorong batu tadi.”

http://cosaaranda.com

Kisah tentang Sebotol Anggur

Kisah ini berawal dari pengalaman seseorang, sebut saja bernama fulus, bertahun-tahun silam ketika berkunjung ke suatu pedalaman untuk urusan bisnis. Dalam kunjungan tersebut ia ditemani oleh dua orang rekan kerjanya, sebut saja bernama falas dan fulas. Ketiganya menginap di rumah salah seorang warga karena belum ada hotel/losmen yang beroperasi saat itu. Rumah tersebut hanya dihuni oleh satu orang pria yang diberi tugas oleh tetua adat untuk melayani kebutuhan keseharian tamu, termasuk memasak dan menyediakan makanan.

Tidak banyak yang dibawa oleh ketiganya dalam kunjungan tersebut, dan salah satunya adalah Sebotol Anggur mahal. Rencananya sebotol anggur tersebut akan diberikan untuk tetua adat sebagai kenang-kenangan di akhir kunjungan.

Beberapa hari berjalan.. semua baik-baik saja.. kecuali satu hal, dari hari ke hari Botol Anggur yang mereka letakkan di ruang makan sepertinya terus berkurang isinya sedikit demi sedikit, padahal mereka tidak meminumnya.

Untuk memastikan apakah memang benar isi Botol Anggur itu berkurang, fulas memutuskan untuk membuat tanda berupa garis tipis di Botol Anggur, sehingga akan diketahui dengan jelas apabila isinya memang berkurang.

Apa yang terjadi?
Ternyata isinya memang berkurang terus dari hari ke hari, walaupun sedikit demi sedikit, dan tak ada satupun dari fulus, falas, maupun fulas yang merasa meminumnya.

Siapa yang meminumnya?
Baik fulus, falas, maupun fulas tidak punya tertuduh lain lagi selain si pengurus rumah yang terlihat lugu, sebab ketiganya memang selalu bersama-sama sepanjang hari untuk keperluan bisnis dan di rumah hanya di malam hari untuk makan malam dan langsung beristirahat agar dapat melanjutkan urusan bisnis di keesokan harinya.

Hingga suatu hari, mereka sepakat untuk memberi pelajaran kepada si pengurus rumah dengan cara mencampur isi Botol Anggur dengan air seni mereka. Ketiganya hanya saling lirik dan senyum-senyum saja melihat isi Botol Anggur masih terus berkurang sedikit demi sedikit setiap harinya.

Tetapi karena tidak tega membayangkan si pengurus rumah yang lugu tersebut terus menerus meminum air seni mereka, suatu hari ketiganya memutuskan untuk memanggil si pengurus rumah dan menanyakan tentang isi Botol Anggur.

Dengan gaya bertanya yang tidak menuduh secara langsung, falas yang bertindak sebagai juru bicara mengatakan bahwa mereka perhatikan isi Botol Anggur yang diletakkan di meja makan itu selalu berkurang setiap harinya, dan pasti ada seseorang di rumah ini yang meminumnya!

Serta merta si pengurus rumah yang lugu ini menyahut, “Not me, Boss!, Saya tidak meminumnya sedikitpun. Tetapi selama ini Saya hanya menggunakannya sedikit setiap hari untuk keperluan memasak MAKAN MALAM para Boss!

seringkali kita menjudge seseorang bersalah tanpa didasari bukti yang jelas. padahal jika ditanyakan sebab dan akibatnya, mungkin hal yang terlihat salah merupakan kebaikan untuk kita. mulailah ubah cara pandang kita agar lebih positif…

http://luckypermana.blogspot.com

Kisah Tentang Gelas

Di sebuah tepi danau yang rindang, diiringi suara angin sepoi-sepoi yang menyejukkan, seorang guru bertanya kepada murid kesangannya.
“ Muridku, liahatlah air danau itu.. bayangkan air itu di taruh dalam sebuah gelas dan sebuah ember besar. Ketika kau mengangkatnya berat yang mana antara gelas dan ember berisi air dananu itu..?”
“ Tentu berat ember yang berisi air, guruku..” jawab sang murid.
“ Tidak muridku, belum tentu ember yang berisi air itu lebih berat daripada sebuah gelas yang berisi air tergantung bagaimana kau mengangkatnya. Sebuah gelas berisi air itu akan terasa sangat berat ketika kau memegangnya terus menerus tanpa sesekali kau meletakannya sebentar untuk merelaksasikan otot tanganmu barang sebentar. Dan ember berisi air itu akan terasa sangat ringan ketika kau mengangkatnya bersama kawan-kawanmu. Apakah kau mengerti pelajaran yang kau dapat hari ini muridku ..? ”
Dan sang muridpun merenung….
——————————————————————————————————
Kawan, begitupun sebuah amanah. Amanah sekecil apapun ketika kita terus menerus memegangnya tanpa memberi kesempatan bagi otak kita, tubuh kita, jiwa kita untuk beristirahat sejenak maka masalah itu akan terasa semakin berat.

Kawan, mungkin saat ini kita merasa jenuh, lelah dengan “gelas” yang terus menerus berada di tangan kita. Mungkin selama ini kita tidak pernah menurunkan lengan ini barang sejenak, sehingga “gelas” itu terasa semakin berat, sehingga kita semakin tidak tahan untuk membawanya dan akhirnya membuangnya untuk selamanya. Ada saatnya ketika dalam perjalanan, kita menetukan titik-titik pemberhentian untuk sekedar mengurangi kehausan, beristirahat, dan mengisi air minum untuk perjalanan berikutnya. Ketika kita membawa beban amanah, tidak melihat besar atau kecil amanah itu, maka ada kalanya bagi kita untuk beristirahat sejenak untuk sekedar mengevaluasi, merenung, mengistirahatkan fikiran kita sejenak, dan merecharge kembali semangat kita, ruhiyah kita, agar perjalanan kita selanjutnya akan kembali kita lalui dengan bekal yang cukup.

Ketahuilah istirahat itu bukan melepaskan amanah kawan, bukan… “Gelas” itu masih menjadi tanggung jawab kita untuk senantiasa kita bawa sampai titik akhir tujuannya, tetapi istirahat adalah momen untuk menurunkan sejenak lengan, bernafas, dan mengangkat kembali gelas itu. Istirahat adalah momen memberikan semangat kembali, mengisi ruhiyah kita sehingga hambatan-hambatan di perjalanan berikutnya akan terlalui dengan mudah. Istirahat adalah momen untuk merencanakan kembali perjalanan kita berikutnya, sehingga perjalanan berikutnya akan terasa mudah dan terencana.

Ketahuilah kawanku, bahwa sebenarnya istirahat itu juga merupakan titik kritis bagi kita. Apakah akan meneruskan perjalanan berikutnya dengan konsekuensi akan menumui hambatan-hambatan yang harus kita selesaikan, atau memutuskan sebagai titik akhir perjalanan kita, padahal sebenarnya titik akhir itu masih panjang. Maka isilah istirahat itu dengan keyakinan bahwa kita harus meneruskan perjalanan ini, bahwa kita harus masih mengangkat ‘gelas’ ini. Jangan sampai kita terbuai dengan kenyamanan sehingga menjadi malas ketika kita harus bergerak kembali.

Kawand tentukanlah titik-titik pemberhentian itu, tentukanlah kapan kita harus menurunkan sejenak lengan ini. Agar ‘gelas’ yang kita bawa tidak terasa semakin berat, sehingga kita mampu untuk selalu membawanya sampai titik akhir tujuan kita.. yaitu surga..
Kawan, masih ada pelajaran yang kita ambil. Yaitu ketika kita adalah orang yang memberikan ‘gelas’ itu kepada sahabat, staff, atau bawahan kita. Ketika kita memberi amanah kepada orang lain. Berikanlah kesempatan kepada sang pembawa ‘gelas’ itu untuk menentukan titik istirahatnya, jangan sampai kita senantiasa memberi gelas-gelas itu tanpa memberikan waktu untuk sejenak untuk istirahat. Janganlah menjadi orang yang dzalim…

Kawan, tidak selamanya teman kita itu akan berkata ketika gelas itu mulai terus terasa berat. Mungkin ketika kita meberikan ‘gelas’ itu di tangan kanannya, sebenarnya di tangan kirinya pun ada gelas-gelas lain yang harus ia bawa sampai titik tujuan, namun ia menyembunyikan gelas-gelas itu karena ia tak tega melihat kita. Atau malah kita pura-pura tidak tahu bahwa teman kita itu sedang membawa banyak gelas.

Kawan berikanlah waktu sejenak pada kawan kita itu untuk sekedar menurunkan lengannya agar mampu
membawa gelas itu sampai titik tujuannya. Kawan, mungkin air dalam gelas-gelas itu akan sama beratnya dengan air yang ada di dalam ember. Ember berisi air itu akan terasa ringan ketika kita membawanya bersama-sama. Mungkin sang pembawa ‘ember’ itu tidak berkata bahwa dia butuh bantuan karena mungkin sungkan, takut, kasihan pada kita, atau sebab yang lainnya. Tetapi kita adalah sahabatnya, yang tanpa di minta untuk membantunya seharusnya ktia tahu bahwa dia butuh bantuan. Bahwa dia butuh tangan-tangan lain untuk membawa air itu, sehingga ember itu akan menjadi gelas-gelas kembali yang akan lebih ringan untuk di bawa karena sudah dibagi bersama-sama.

Kawan fahamilah saudaramu tanpa menunggu sampai dia meminta untuk di fahami. Kawan bantulah sahabatmu tanpa menunggu dia meminta untuk dibantu. Kawan, kurangilah gelas-gelas itu tanpa menunggu dia membuang salah satu gelas karena terasa berat.

Kawanku pedulilah…………
Kawanku pahamilah………

http://jundi4.blogspot.com

Kisah Tempayan Retak

Dikisahkan ada seorang tukang air memiliki dua tempayan seramik ( gentong ) besar yang difungsikan untuk mengangkut air dari sumber mata air ke rumah majikannya. Masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa dengan cara menyilang pada pundak si tukang air. Satu dari tempayan itu retak dan bocor, sedangkan tempayan yang satunya lagi bagus dan tidak bocor.Setiap kali si tukang air mengambil air dari sumbernya, kedua tempayan itu diisi penuh dan dipikul ke penampungan air di rumah majikannya, namun tempayan yang retak itu selalu isinya tinggal setengah ketika hendak dituangkan kedalam bak air. Sedangkan tempayan yang bagus isinya masih penuh sesuai dengan waktu pengambilan air. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya setiap kali mengangkut air. Tentu saja si tempayan yang bagus merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Berbeda dengan si tempayan retak merasa malu akan kekurangannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya bisa ia berikan.
Setelah dua tahun tertekan oleh masalah itu, tempayan retak mulai minder, apalagi sering dilecehkan oleh tempayan yang bagus. Tempayan retak merasa malu, lalu ia berkata kepada si tukang air, “aku sungguh malu pada diriku sendiri, dan aku ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”. Selama dua tahun ini, aku hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat kubawa. Karena kekuranganku selama ini, telah membuatmu rugi,” kata tempayan retak itu. Aku juga tidak mau menjadi bahan tertawaan sahabatku si tempayan yang bagus, ketidak sempurnaanku menjadi bahan celaan buat dia. Mulai besok aku mau berhenti mengangkut air, karena memang aku tidak mampu, pinta tempayan retak kepada tukang air.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, ” besok kita akan mengambil air lagi, aku ingin kamu memperhatikan sepanjang jalan yang kita lalui dari sisimu berada dan sisi si tempayan bagus, kata tukang air.
Besok harinya, ketika membawa air dari sumbernya, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Sementara itu di sisi sahabatnya tempayan yang bagus sepanjang jalan kelihatan gersang. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?” Tempayan retak menjawab: ” iya aku lihat, tapi apa hubungannya dengan masalahku? tanya tempayan retak. Begini maksudku, dari dulu aku menyadari akan kondisimu yang kamu anggap sebagai kekuranganmu. Aku justru melihat itulah kelebihanmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menabur benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu menyirami benih-benih tersebut tanpa kamu sadari.Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa keberadaanmu dan retak yang kamu anggap sebagai kekuranganmu, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya dengan bunga-bunga seindah sekarang.” Kamu tidak memahami dan tidak menyadari bahwa apa yang kamu anggap sebagai kelemahanmu, justru adalah kelebihanmu. Kamu telah menciptakan potensi kehidupan baru yang sangat berguna, sedangkan tempayan bagus, dia memang produktif dalam melaksanakan tugasnya, tapi kamu lihat di sepanjang jalan di wilayah dia, tanahnya tetap gersang tanpa bunga2 yang indah.”

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2040020-kisah-tempayan-retak/#ixzz1KbGJnCt7

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

http://www.motivasi-islami.com

Cerita Tentang seorang gadis Buta

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia. Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk suratsingkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Previous Older Entries

Follow me on Twitter

Error: Please make sure the Twitter account is public.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.